23 Juli 2026 - BY Admin

Stop Overthinking: Kelola Pikiran Berlebih Demi Pengasuhan Bebas Kekerasan

Pernahkah kamu tiba-tiba memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi, lalu pikiran itu terus berputar dan sulit berhenti? Itulah overthinking — kondisi yang dialami hampir semua orang, namun bisa berbahaya jika tidak dikelola. Dalam konteks pengasuhan, overthinking yang tidak terkendali ternyata bisa menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan terhadap anak.

“Tema ‘Stop Overthinking’ diangkat sebagai bentuk edukasi untuk meningkatkan kesadaran diri, kemampuan mengelola pikiran dan emosi, serta membangun ketahanan diri agar dapat mencegah perilaku yang berpotensi menimbulkan kekerasan.”

— Erlina Hidayati Sumardi — Kepala DP3AP2 DIY

Apa Itu Overthinking?

Overthinking adalah kondisi ketika pikiran berulang-ulang dan sulit dikendalikan, baik tentang masa lalu maupun masa depan. Kondisi ini merupakan respons tubuh terhadap ketidakpastian — otak mendeteksi "bahaya" dan memicu kecemasan. Akibatnya, seseorang bisa terlalu lama mengambil keputusan, atau justru bereaksi terburu-buru tanpa mempertimbangkan situasi yang sebenarnya.

Bagaimana Overthinking Memicu Kekerasan dalam Pengasuhan?

Dalam pengasuhan, overthinking sering muncul dari keinginan orang tua untuk melindungi anak. Namun jika berlebihan, dampaknya justru negatif:

Dampak Overthinking pada Orang Tua

Menjadi overprotective dan terlalu mengontrol anak

Meningkatnya kecemasan dan stres yang sulit dikelola

Menginvalidasi emosi anak karena terlalu fokus pada kekhawatiran sendiri

Berisiko memunculkan pola pengasuhan keras hingga berujung kekerasan verbal atau fisik

Contoh nyatanya: anak menangis terus-menerus di tempat umum, orang tua merasa dipermalukan dan panik, lalu bereaksi dengan membentak atau memukul agar anak berhenti. Reaksi ini muncul bukan karena orang tua jahat, melainkan karena pikiran dan emosinya tidak sempat dikelola terlebih dahulu.

Empat Cara Mengatasi Overthinking

1.  Ganti pertanyaan “What if?” dengan pertanyaan yang lebih realistis: “Apa yang sebenarnya mungkin terjadi?” — agar pikiran lebih objektif dan tidak terjebak skenario terburuk.

2.  Terapkan teknik STOP sebelum merespons anak: Stop (berhenti sejenak), Take a Breath (tarik napas 4-7-8), Observe (amati perasaan dan situasi), Proceed (tentukan tindakan secara sadar).

3.  Fokus pada hal yang bisa dikendalikan: mengajarkan keterampilan keselamatan pada anak, membuat aturan bersama, dan hadir secara emosional. Bukan pada hal di luar kendali seperti masa depan atau perilaku orang lain.

4.  Terapkan self-compassion — merespons diri sendiri dengan hangat dan penuh pengertian, bukan kritik berlebihan. Orang tua yang bisa menerima kesalahannya sendiri akan lebih mudah meregulasi emosi dan mengasuh dengan lebih sehat.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Overthinking masih normal selama belum mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun jika pikiran muncul terus-menerus, sulit berkonsentrasi, atau mengganggu kualitas tidur, saatnya berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Kecemasan yang didasarkan pada fakta nyata dan mendorong kita bersiap lebih baik adalah kecemasan yang sehat — berbeda dengan kecemasan atas asumsi yang terus berulang.

“Kualitas lebih penting daripada kuantitas. Hadir secara emosional — mendengar tanpa menghakimi — jauh lebih berarti bagi anak daripada sekadar selalu ada di rumah.”

— Shabrin Risti Aulia, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Jika kamu atau keluargamu membutuhkan pendampingan, layanan konseling tersedia gratis melalui Layanan Gratis DP3AP2 DIY

PUSPAGA — konseling keluarga, daring & luring

Balai & UPT PPA — pendampingan psikologis, hukum, dan kesehatan

SAPA 129 — hotline pengaduan yang dapat dihubungi kapan saja


Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?