3 Desember 2024 - BY Admin

Melalui Filosofi Bunga Kertas, Mengajak Masyarakat Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

Yogyakarta, DP3AP2 -, Sebagai Rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Dinas P3AP2 DIY, Bersama dengan P2TPAKK Rekso Dyah Utami, dan jejaring terkait melakukan Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak dengan pembagian kit yang berisi bunga kertas, permen, tisu, dan stiker layanan pengaduan kekerasan dan konseling yang ada di DIY. Berlokasi di Pasar Godean dan Pasar Sentul, Dinas P2AP2 DIY Bersama dengan jejaring terkait membagikan 700 pack kit kepada para pedagang dan pengunjung pasar.

Bukan tanpa alasan, pembagian kit tersebut menjadi salah satu upaya yang dilakukan Dinas P3AP2 DIY bersama jejaring terkait pemerhati perlindungan perempuan dan anak untuk mensosialisasikan mengenai Pentingnya menjaga kasih sayang dalam keluarga untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta pentingnya menjaga diri sendiri dan orang sekitar dari tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain itu kegiatan ini juga menjadi upaya untuk mendorong masyarakat agar berani melapor jika terjadi kekerasan di sekitar kita. Pembagian bunga tersebut bukan menjadi pembagian bunga biasa, bunga yang dibagikan dalam kegiatan ini merupakan bunga yang dibuat dan dirangkai oleh para korban kekerasan, hal ini menjadi sebuah pertanda bahwa korban kekerasan tetap berdaya, selain itu, bunga juga menjadi simbol kasih sayang terhadap sesama manusia, yang artinya dengan membagikan bunga tersebut kita memiliki kewajiban untuk saling menyayangi dan menjaga antar sesama.


Bukan hanya membagi bunga semata, kegiatan yang berlangsung mulai pukul setengah 7 pagi ini juga memberikan pesan kepada para pedagang dan pengunjung pasar mengenai pentingnya menjaga diri dan orang sekitar dari kekerasan. Dalam orasi yang disampaikan di pasar Godean, Sri Maryani selaku Ketua pelaksana P2TPAKK Rekso Dyah Utami menyampaikan bahwa kekerasan tidak hanya terjadi di tempat yang jauh dari kita, kekerasan bias terjadi dimana saja, bahkan di lingkungan yang dekat dari kita. Kekerasan juga beragam bentuknya, bukan hanya yang melibatkan fisik semata, namun juga dapat berbentuk kekerasan verbal hingga psikologis. Dalam kesempatan tersebut, Sri Maryani mengajak kepada para warga untuk peduli terhadap satu sama lain, karena setiap perempuan dan anak berhak hidup dalam lingkungan yang aman, penuh kasih saying, dan penghormatan. Karena Tanpa rasa aman, bagaimana seorang ibu bisa mendidik generasi masa depan dengan baik, Tanpa rasa aman, bagaimana seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berprestasi. Pada akhir orasinya, Sri Maryani mengajak kepada para pedagang dan pengunjung pasar untuk berperan dalam menghentikan kekerasan dengan, Jangan ragu melaporkan jika melihat atau mengetahui adanya kekerasan, Jangan biarkan pelaku merasa bebas melakukan kekerasan, Lindungi anak-anak kita dari kata-kata kasar, bentakan, atau tindakan yang melukai fisik maupun mental mereka, karena anak-anak adalah investasi terbaik untuk masa depan kita. Cegah kekerasan dalam rumah tangga, mari Jadikan rumah tempat yang damai, bukan tempat yang penuh dengan ketakutan.

Senada dengan apa yang disampaikan Sri Maryani di Pasar Godean, Slamet selaku perwakilan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta dalam orasinya di Pasar Sentul menyampaikan bahwa Kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah pelanggaran hak asasi manusia yang tidak bisa dibiarkan. Kekerasan ini dapat menghancurkan masa depan mereka, mengambil rasa percaya diri mereka, dan meninggalkan luka yang mendalam, baik fisik maupun emosional. Pada kesempatan yang sama, Slamet menyampaikan bahwa Penting untuk kita ingat bahwa kekerasan bukanlah budaya, bukanlah tradisi, dan bukan pula norma yang bisa diterima begitu saja. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendidik generasi mendatang, untuk menjadikan dunia tempat yang lebih aman bagi perempuan dan anak-anak. DI Akhir orasinya, Slamet mengajak kepada para pedagang dan pengunjung Pasar Sentul untuk Bersama-sama memperjuangkan hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan kita.




Hentikan kekerasan! Lindungi perempuan dan anak! Mari wujudkan dunia yang lebih adil dan aman untuk kita semua.

Kegiatan yang berlangsung hari ini menjadi bagian dari kampanye peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, kegiatan ini berlangsung sukses dengan dukungan beberapa pihak. Hera Aprilia S.Kom., M.Eng selaku Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak (P3KA) menyampaikan terimakasih atas dukungan yang luar biasa dari berbagai pihak yang sudah ikut membantu menyukseskan kegiatan hari ini, diantaranya P2TPAKK Rekso Dyah Utami, Forum Perlindungan Korban Kekerasan DIY, SATGAS PPA DIY, Puspaga Prima DIY, TeSAGa DIY, SAPA 129, Ikatan Istri Dokter Indonesia, Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga, BKOW DIY, Pusat Studi Gender, Anak, Lansia & Disabilitas UMY, Forum Anak Daerah, KADIN DIY,Centra Grafindo, dan semua pihak yang sudah ikut menyukseskan kegiatan hari ini. Harapannya dengan berlangsungnya kegiatan hari ini, kita semua dapat benar-benar Mewujudkan Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan.

Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?