Yogyakarta, DP3AP2 DIY (25/11/2024) - Pernikahan atau nikah merupakan bentuk komitmen untuk berkeluarga antara laki-laki dengan perempuan melalui proses secara hukum dan agama untuk disahkan. Menikah adalah bentuk manusia dalam meneruskan keturunan. Peradaban manusia saat ini sangat rentan akan faktor penyebab kematian. Bayangkan saja kalau bumi ini sepi tanpa ada manusia karena memilih untuk tidak menikah dan tidak ada keturunan? Jadi kosong kan, lalu siapa yang akan menghuni?
Nah untuk itu pernikahan sangat perlu untuk di lestarikan agar tidak terhapus entitas nya oleh perkembangan saat ini.
Penurunan angka pernikahan ini mendapat atensi dari Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, yaitu Prof DR Bagong Suyanto DRS. M.Si mengatakan bahwa penyebab dari fenomena ini adalah semakin terbukanya peluang perempuan untuk mengembangkan potensi diri. “Angka itu turun karena kesempatan perempuan untuk sekolah dan bekerja semakin terbuka lebar. Dengan begitu ketergantungan perempuan menurun,” ujarnya.
Kamis, (14/11/24) Kepala Bidang Perencanaan Penduduk dan Keluarga Berencana DP3AP2 DIY menyampaikan kepada peserta rapat koordinasi implementasi GDKP “Yang menarik jumlah perceraian meningkat dan pernikahan menurun. Tujuan pernikahan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera. Berarti ada ketidaknyamanan dan ketidakbahagiaan yang menyebabkan perempuan menggugat cerai”.
Lalu kenapa sih generasi muda saat ini tidak tertarik untuk menikah? Masa iya sih harus dijodohin dulu. Jadi ada beberapa faktor yang mendasari generasi muda sekarang dalam menunda atau tidak tertarik lagi untuk menikah:
1. Finansial
Beberapa orang beranggapan menikah itu butuh modal yang besar dan banyak. Memang sih sebagian orang seperti itu, tapi menikah secara sederhana juga dapat menekan pengeluaran yang banyak. Tanggungan pendidikan yang tinggi, biaya beli rumah, dan tanggungan orang tua. Menabung menjadi solusi dalam permasalahan finansial. Jadi kalau kamu udah siap untuk menikah dan finansial mu sudah tercukupi, lalu mengapa masih menunda?
2. Ketakutan dan risiko perceraian
Catin atau calon pengantin sebelum memutuskan untuk menikah, disarankan untuk konsultasi kepada psikolog. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan apa saja yang harus dipersiapkan. Kesiapan mental tentu harus disiapkan dengan matang. Permasalah dalam keluarga, beberapa akan berujung pada perceraian. Untuk itu, kesiapan mental bagi catin perlu dipertimbangkan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Diketahui data cerai gugat dan cerai talak berdasarkan hasil dari Badan Pusat Statistik di DIY:
Berdasarkan hasil, dapat dilihat trend cerai talak dan cerai gugat dari tahun 2020-2022 mengalami peningkatan. Lalu terjadi penurunan di tahun 2023. Calon pasangan yang ingin menikah takut akan hal-hal yang terjadi dalam hubungan pernikahan. Angka perceraian yang tinggi sering kali dipicu oleh masalah seperti KDRT, perselingkuhan, kurangnya dukungan finansial, masalah ekonomi, dan berbagai faktor lainnya. Sebetulnya menikah harus siap dengan segala konsekuensi yang terjadi. Menikah juga perlu kesiapan mental agar mampu menjalani status sebagai istri maupun suami. Perselisihan dalam pernikahan harus segera di atasi. Komunikasi antar pasangan menjadi kunci dalam keharmonisan keluarga.
3. Perubahan pola pikir
Alasan selanjutnya yaitu perubahan pola pikir. Ditemui cuitan komentar pada sebuah postingan di media sosial, diketahui beberapa orang menunda penikahan atau bahkan tidak ingin menikah karena trend marriage is scary, dalam bahasa Indonesia tren ini mengartikan pernikahan itu menakutkan. “Menakutkan” dalam sebagian orang menganggap sebagai hantu. Memang menikah nya dengan hantu? Kan tidak ya sobat... Perspektif generasi muda lebih milih untuk mengembangkan karir dan menaikkan value diri.
“Angka kemandirian perempuan semakin tinggi dan berbanding terbalik dengan tingkat kemapanan pada laki-laki”, ungkap Soleh Anwar (14/11/2024). DP3AP2 berupaya menghapus kasus penindasan pada perempuan. Hal ini terdengar bagus. Tetapi akan menjadi masalah besar jika kemauan perempuan untuk menikah sudah pudar. Tahukah sobat, upaya Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar ajang cari jodoh untuk para pegawai yang dinamakan “Pados Jodho”. Minat peserta yang ikut sangat tinggi dalam kegiatan ini dibuktikan ada terdata 140 pegawai yang terdiri atas 110 laki-laki dan 35 perempuan yang mendaftar. Pemerintah Kota Yogyakarta berharap dengan adanya kegiatan Pados Jodho dapat meningkatkan angka pernikahan. Di samping itu, ada tujuan lain supaya pegawai yang belum menikah tidak perlu repot-repot untuk mencari pasangan. Terkadang tuntutan pekerjaan yang tinggi dan kurang nya waktu untuk diri sendiri menjadi penghambat seseorang dalam menikmati kehidupan pribadi.
Untuk itu, minat untuk menikah harus tetap ada. Karena itu, jangan biarkan ketakutan menghalangi langkah menuju kebahagiaan. Bersama pasangan yang tepat, pernikahan bukan hanya tentang menghadapi tantangan, tetapi juga membangun kehidupan yang penuh cinta, saling mendukung, dan berbagi kebahagiaan. Yuk, wujudkan impian membangun rumah tangga yang harmonis! (MF/SR)