22 Juni 2026 - BY Admin

It’s Okay Not to Be Okay: Menerima Kekurangan Diri agar Terhindar dari Kekerasan

Sepanjang tahun 2025, Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan — naik 14,07% dari tahun sebelumnya. Angka yang mengkhawatirkan ini menyimpan fakta yang lebih penting: banyak korban tidak melapor bukan karena tidak tahu harus ke mana, melainkan karena kondisi psikologis mereka — takut disalahkan, merasa malu, merasa tidak berharga, atau terjebak dalam ketergantungan emosional dan ekonomi.

Di sinilah kesehatan mental perempuan menjadi kunci. Ketika seorang perempuan memiliki harga diri yang sehat, ia akan lebih mampu mengenali batasan dalam hubungannya, berani bersuara ketika haknya dilanggar, dan tidak mudah terjebak dalam siklus kekerasan. Salah satu fondasinya adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri — termasuk segala kekurangan yang ada.

 

“Tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah fondasi penting bagi kesehatan mental dan kekuatan diri.”

— Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M. — Kepala DP3AP2 DIY

 

Apa Itu “Kekurangan Diri”?

Ketika kita berbicara tentang kekurangan diri, kita tidak sedang berbicara tentang kegagalan atau kerusakan. Kekurangan diri adalah bagian dari diri yang belum sesuai standar — baik standar diri sendiri, standar orang tua, maupun standar sosial yang kita serap dari lingkungan sekitar.

Yang penting untuk dipahami: kekurangan itu bersifat netral. Kita yang kemudian memaknainya, apakah sebagai kegagalan yang memalukan, atau sebagai area untuk tumbuh. Ketika kekurangan tidak bisa diterima dan terus-menerus dipandang sebagai aib, ia berubah menjadi beban psikologis: rasa malu yang menggunung, ketakutan akan penolakan, dan sikap defensif yang menghalangi hubungan yang sehat.

Apa yang Terjadi Jika Kita Tidak Bisa Menerima Kekurangan Diri?

Dampaknya nyata dan bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik pada diri sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain:

Dampak pada Diri Sendiri

      Harga diri rendah — merasa tidak layak mendapatkan yang lebih baik

      People pleaser — sulit mengatakan “tidak” demi mendapatkan penerimaan

      Perfeksionisme berlebihan — cemas terus-menerus dan rentan burnout

      Kecemasan sosial — takut dinilai dan dihakimi orang lain

 

Dampak dalam Relasi

      Rentan menjadi korban — sulit berkata tidak, takut ditinggalkan, dan menoleransi perlakuan buruk yang seharusnya tidak perlu diterima

      Rentan menjadi pelaku — tidak tahan dikritik, mudah tersinggung, cenderung mengontrol orang lain, dan mudah bersikap agresif

 

Empat Langkah Menerima Kekurangan Diri

Menerima kekurangan bukan berarti menyerah pada kelemahan. Ini adalah langkah aktif untuk membangun hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri. Berikut empat cara yang dapat dipraktikkan:

1.  Self Acceptance — Terima, Tanpa Syarat

Ucapkan pada diri sendiri: “Meskipun saya punya keterbatasan, saya tetap berharga.” Kalimat sederhana ini bukan sekadar afirmasi — ini adalah latihan untuk menggeser cara pandang dari menghukum diri menjadi menerima diri.

2.  Naming Without Judging — Sebutkan, Jangan Hakimi

Sebutkan kekurangan yang kamu miliki dengan jelas, tanpa label negatif. Lalu tanyakan: “Yang bisa saya lakukan untuk menguasainya adalah...” Dengan menyebutkan tanpa menghakimi, kita mengubah kekurangan dari ancaman menjadi informasi yang bisa ditindaklanjuti.

3.  Dialog Diri — Jadilah Teman Bagi Dirimu Sendiri

Bayangkan seorang teman memiliki kekurangan yang sama sepertimu. Apa yang akan kamu katakan padanya? Kemungkinan besar kamu akan berkata dengan lembut dan penuh dukungan. Sekarang, katakan hal yang sama kepada dirimu sendiri. Kita sering jauh lebih kejam pada diri sendiri daripada yang kita izinkan kepada orang lain.

4.  Reality Check — Pisahkan Fakta dari Asumsi

Tanyakan pada dirimu: “Faktanya saya... Asumsinya saya...” Banyak rasa malu dan ketakutan yang kita rasakan bukan berasal dari fakta, melainkan dari asumsi yang kita bangun sendiri. Memisahkan keduanya membantu kita melihat situasi dengan lebih jernih.

Bagaimana Kekurangan Diri Berhubungan dengan Kekerasan?

Perempuan yang belum bisa menerima kekurangannya dan menilai dirinya rendah cenderung lebih rentan menerima perlakuan buruk. Harga diri yang rendah membuat seseorang sulit berkata tidak, sulit mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, dan lebih mudah bertahan dalam situasi yang menyakitkan karena merasa tidak layak mendapatkan yang lebih baik.

Penerimaan diri bukan berarti pasrah pada kekerasan yang terjadi. Justru sebaliknya — perempuan yang mampu menerima dirinya, termasuk segala kekurangannya, akan lebih kuat untuk mengenali bahwa ia layak diperlakukan dengan hormat. Ia akan lebih siap mengakses layanan, menjalani proses pemulihan, dan membangun hidup yang lebih aman.

 

“Bukan berarti menerima saja — namun tetap berproses untuk berpulih.”

— Cania Mutia, M.Psi., Psikolog

 

Tips Praktis: Menjaga Harga Diri di Era Media Sosial

Media sosial kerap menjadi arena yang memperparah kondisi psikologis, terutama ketika kita terpapar konten flexing pencapaian orang lain atau komentar negatif. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

Jaga Harga Diri di Tengah Badai Informasi

      Sebelum berinteraksi dengan dunia luar, pastikan kamu sudah merasa “cukup” dari dalam — bukan dari validasi orang lain

      Ketika konten di media sosial membuatmu merasa tidak cukup baik, itu adalah sinyal bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja — dan itu sah

      Pertimbangkan untuk melakukan digital detox secara berkala, terutama saat media sosial mulai terasa menyita energi emosionalmu

      Fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan: perkembanganmu sendiri, bukan pencapaian orang lain

 

Tentang Komunikasi Asertif

Menerima kekurangan diri juga membuka jalan bagi komunikasi yang lebih sehat. Ketika seseorang belum bisa menerima dirinya, ia cenderung merespons kritik dengan dua cara yang sama-sama tidak produktif: diam sambil memendam dendam, atau menyerang balik secara agresif.

Komunikasi asertif — menyampaikan apa yang kita rasakan dan butuhkan dengan jelas, tanpa menyerang dan tanpa mengorbankan diri — adalah keterampilan yang tumbuh dari fondasi penerimaan diri. Ingat: tugas kita adalah menyampaikan dengan jujur dan tenang. Respons orang lain adalah di luar kendali kita, dan itu bukan tanggung jawab kita untuk dikendalikan.

 

Butuh Bantuan?

Jika kamu atau orang di sekitarmu membutuhkan pendampingan, konseling, atau ingin melaporkan kasus kekerasan, layanan berikut tersedia secara gratis:

Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak DIY

      SAPA 129 — hotline nasional yang dapat dihubungi kapan saja

      UPT PPA — tersedia di provinsi dan setiap kabupaten dan kota se-DIY

      PUSPAGA DIY (Pusat Pembelajaran Keluarga) — layanan konseling keluarga secara luring, gratis

      TESAGA DIY — layanan konsultasi psikologis yang dapat diakses secara online, gratis, 24 jam

 

Kamu tidak harus menghadapi semua yang terjadi seorang diri.

Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?