Sepanjang tahun 2025, Komnas Perempuan mencatat 376.529
kasus kekerasan terhadap perempuan — naik 14,07% dari tahun sebelumnya. Angka
yang mengkhawatirkan ini menyimpan fakta yang lebih penting: banyak korban
tidak melapor bukan karena tidak tahu harus ke mana, melainkan karena kondisi
psikologis mereka — takut disalahkan, merasa malu, merasa tidak berharga, atau
terjebak dalam ketergantungan emosional dan ekonomi.
Di sinilah kesehatan mental perempuan menjadi kunci. Ketika
seorang perempuan memiliki harga diri yang sehat, ia akan lebih mampu mengenali
batasan dalam hubungannya, berani bersuara ketika haknya dilanggar, dan tidak
mudah terjebak dalam siklus kekerasan. Salah satu fondasinya adalah kemampuan
untuk menerima diri sendiri — termasuk segala kekurangan yang ada.
|
“Tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja.
Menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah
fondasi penting bagi kesehatan mental dan kekuatan diri.” — Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P.,
M.M. — Kepala DP3AP2 DIY |
Apa Itu “Kekurangan Diri”?
Ketika kita berbicara tentang kekurangan diri, kita tidak
sedang berbicara tentang kegagalan atau kerusakan. Kekurangan diri adalah
bagian dari diri yang belum sesuai standar — baik standar diri sendiri, standar
orang tua, maupun standar sosial yang kita serap dari lingkungan sekitar.
Yang penting untuk dipahami: kekurangan itu bersifat
netral. Kita yang kemudian memaknainya, apakah sebagai kegagalan yang
memalukan, atau sebagai area untuk tumbuh. Ketika kekurangan tidak bisa
diterima dan terus-menerus dipandang sebagai aib, ia berubah menjadi beban
psikologis: rasa malu yang menggunung, ketakutan akan penolakan, dan sikap
defensif yang menghalangi hubungan yang sehat.
Apa yang Terjadi Jika Kita Tidak Bisa Menerima Kekurangan Diri?
Dampaknya nyata dan bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik
pada diri sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain:
|
Dampak
pada Diri Sendiri •
Harga diri rendah — merasa tidak
layak mendapatkan yang lebih baik •
People pleaser — sulit mengatakan “tidak” demi
mendapatkan penerimaan •
Perfeksionisme berlebihan — cemas
terus-menerus dan rentan burnout •
Kecemasan sosial — takut dinilai
dan dihakimi orang lain |
|
Dampak
dalam Relasi •
Rentan menjadi korban — sulit berkata
tidak, takut ditinggalkan, dan menoleransi perlakuan buruk yang seharusnya
tidak perlu diterima •
Rentan menjadi pelaku — tidak tahan
dikritik, mudah tersinggung, cenderung mengontrol orang lain, dan mudah
bersikap agresif |
Empat Langkah Menerima Kekurangan Diri
Menerima kekurangan bukan berarti menyerah pada kelemahan.
Ini adalah langkah aktif untuk membangun hubungan yang lebih jujur dengan diri
sendiri. Berikut empat cara yang dapat dipraktikkan:
1. Self Acceptance — Terima, Tanpa Syarat
Ucapkan pada diri sendiri: “Meskipun saya punya
keterbatasan, saya tetap berharga.” Kalimat sederhana ini bukan sekadar
afirmasi — ini adalah latihan untuk menggeser cara pandang dari menghukum diri
menjadi menerima diri.
2. Naming Without Judging — Sebutkan, Jangan
Hakimi
Sebutkan kekurangan yang kamu miliki dengan jelas, tanpa
label negatif. Lalu tanyakan: “Yang bisa saya lakukan untuk menguasainya
adalah...” Dengan menyebutkan tanpa menghakimi, kita mengubah kekurangan dari
ancaman menjadi informasi yang bisa ditindaklanjuti.
3. Dialog Diri — Jadilah Teman Bagi Dirimu
Sendiri
Bayangkan seorang teman memiliki kekurangan yang sama
sepertimu. Apa yang akan kamu katakan padanya? Kemungkinan besar kamu akan
berkata dengan lembut dan penuh dukungan. Sekarang, katakan hal yang sama
kepada dirimu sendiri. Kita sering jauh lebih kejam pada diri sendiri daripada
yang kita izinkan kepada orang lain.
4. Reality Check — Pisahkan Fakta dari Asumsi
Tanyakan pada dirimu: “Faktanya saya... Asumsinya saya...”
Banyak rasa malu dan ketakutan yang kita rasakan bukan berasal dari fakta,
melainkan dari asumsi yang kita bangun sendiri. Memisahkan keduanya membantu
kita melihat situasi dengan lebih jernih.
Bagaimana Kekurangan Diri Berhubungan dengan Kekerasan?
Perempuan yang belum bisa menerima kekurangannya dan
menilai dirinya rendah cenderung lebih rentan menerima perlakuan buruk. Harga
diri yang rendah membuat seseorang sulit berkata tidak, sulit mengenali
tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, dan lebih mudah bertahan dalam situasi
yang menyakitkan karena merasa tidak layak mendapatkan yang lebih baik.
Penerimaan diri bukan berarti pasrah pada kekerasan yang
terjadi. Justru sebaliknya — perempuan yang mampu menerima dirinya, termasuk
segala kekurangannya, akan lebih kuat untuk mengenali bahwa ia layak
diperlakukan dengan hormat. Ia akan lebih siap mengakses layanan, menjalani
proses pemulihan, dan membangun hidup yang lebih aman.
|
“Bukan berarti menerima saja — namun tetap berproses untuk
berpulih.” — Cania Mutia, M.Psi., Psikolog |
Tips Praktis: Menjaga Harga Diri di Era Media Sosial
Media sosial kerap menjadi arena yang memperparah kondisi
psikologis, terutama ketika kita terpapar konten flexing pencapaian orang lain
atau komentar negatif. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
|
Jaga
Harga Diri di Tengah Badai Informasi •
Sebelum berinteraksi dengan dunia luar, pastikan kamu sudah
merasa “cukup” dari dalam — bukan dari validasi orang lain •
Ketika konten di media sosial membuatmu merasa tidak cukup baik,
itu adalah sinyal bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja — dan itu sah •
Pertimbangkan untuk melakukan digital detox secara berkala,
terutama saat media sosial mulai terasa menyita energi emosionalmu •
Fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan: perkembanganmu sendiri,
bukan pencapaian orang lain |
Tentang Komunikasi Asertif
Menerima kekurangan diri juga membuka jalan bagi komunikasi
yang lebih sehat. Ketika seseorang belum bisa menerima dirinya, ia cenderung
merespons kritik dengan dua cara yang sama-sama tidak produktif: diam sambil
memendam dendam, atau menyerang balik secara agresif.
Komunikasi asertif — menyampaikan apa yang kita rasakan dan
butuhkan dengan jelas, tanpa menyerang dan tanpa mengorbankan diri — adalah
keterampilan yang tumbuh dari fondasi penerimaan diri. Ingat: tugas kita adalah
menyampaikan dengan jujur dan tenang. Respons orang lain adalah di luar kendali
kita, dan itu bukan tanggung jawab kita untuk dikendalikan.
Butuh Bantuan?
Jika kamu atau orang di sekitarmu membutuhkan pendampingan,
konseling, atau ingin melaporkan kasus kekerasan, layanan berikut tersedia
secara gratis:
|
Layanan
Perlindungan Perempuan dan Anak DIY •
SAPA 129 — hotline nasional yang dapat dihubungi
kapan saja •
UPT PPA — tersedia di provinsi dan setiap kabupaten dan kota
se-DIY •
PUSPAGA DIY (Pusat Pembelajaran Keluarga) — layanan
konseling keluarga secara luring, gratis •
TESAGA DIY — layanan konsultasi psikologis yang
dapat diakses secara online, gratis, 24 jam |
Kamu tidak harus menghadapi semua yang terjadi seorang
diri.
22 Juni 2026 - BY Admin