26 November 2024 - BY Admin

Friends with Benefits (FWB): Pemahaman, Perspektif, dan Dampak

Yogyakarta, DP3AP2 DIY (26/11/2024) - Pernahkah Anda mendengar istilah FWB? Mari kupas bersama apa itu FWB.
Belakangan ini, istilah “Friends with Benefits” atau FWB makin sering kita dengar, terutama di kalangan remaja dan anak muda di berbagai kota. Singkatnya, FWB itu hubungan tanpa status resmi dan ada kedekatan fisik, tapi nggak ada komitmen layaknya pacaran atau menikah. Buat sebagian orang, FWB jadi semacam cara untuk eksplorasi diri atau alternatif dari hubungan yang serius. Namun, meskipun kelihatan simpel dan bebas, FWB tetap punya dampak negative, baik dari sisi sosial, psikologis, maupun hukum.  
Bagi beberapa anak muda, FWB dipandang sebagai cara menikmati kebebasan tanpa harus terikat komitmen. Mereka yang memilih FWB biasanya merasa hubungan ini lebih fleksibel dan saling menghargai kemandirian masing-masing. Tapi, perlu diingat bahwa pola hubungan ini tetap berisiko, terutama kalau salah satu pihak mulai terlibat perasaan atau baper lebih dalam.
 
Berdasarkan artikel dalam jurnal Kolaboratif Sains dengan judul “Pergeseran Konstruksi Makna Friends With Benefits (FWB) Pada Pengguna Aplikasi Kencan Tinder”, bahwa pengguna aplikasi kencan tersebut baik laki-laki ataupun perempuan, menganggap hubungan yang dijalani oleh aplikasi kencan hanya untuk bersenang-senang. Perasaan yang timbul oleh pasangan lewat aplikasi kencan hanya sebatas sementara, walaupun memang ada beberapa pasangan yang langgeng sampai jenjang pernikahan.
Lalu sebenarnya kenapa masih ada orang yang mau FWB-an meskipun ujung-ujungnya gak bisa bersama?
Berbicara mengenai kata “gak bisa bersama”, beberapa alasan ini bisa menjadi jawaban mengapa FWB dilakukan:

1.Merasa bahwa seseorang hanya cocok dijadikan hiburan
Pendapat ini mengasumsikan bahwa pasangan FWB hanya cocok sebagai teman saja. Pada kondisi seseorang mengalami kesepian, beban pikiran, dan problema tertentu seseorang tersebut membutuhkan tempat untuk bercerita dan bertukar pikiran. Mereka menganggap bahwa pasangan untuk masa depan, dalam konteks pernikahan akan ditemui sejalan dengan hubungan yang dijalani sekarang.

2.Rasa ingin tahu
Fenomena FWB dapat lebih banyak menyebar dari satu orang ke orang lain. Dimulai dari rasa penasaran yang tinggi membuat fenomena FWB ini semakin diikuti oleh sebagian orang. Hubungan pertemanan yang positif akan membawa seseorang ke arah yang baik. FWB tidak dapat diartikan sebagai hubungan yang baik atau salah. Tetapi banyak orang yang menjalani FWB untuk ke arah yang menyimpang dari norma yang ada. Untuk itu, arus pertemanan dapat membawa seseorang dalam menemukan jati diri.

3.Pemenuh nafsu
Beberapa pasangan FWB memang banyak yang mengarah pada hubungan seksual. Kasus tidur satu malam atau one night stand memang nyata adanya. Alasan ini menjadi alasan pasangan FWB sebagai hubungan yang memberikan “keuntungan” yaitu saling untung dalam memenuhi nafsu. Hubungan seperti ini mampu membawa pasangan FWB ke arah yang negatif.

4.Tanpa komitmen
Pasti untuk kaum wanita sangat menolak jika dihadapkan oleh laki-laki yang mengajak berhubungan tanpa komitmen. Orang yang memiliki hubungan FWB tidak perlu berkomitmen dalam menjalin hubungan, tidak harus repot-repot memperkenalkan pasangan ke keluarga masing-masing., dan yang terakhir adalah bisa menikmati kebebasan dalam berhubungan tanpa rasa bersalah.
Terakhir, apa sih dampak FWB bagi orang yang menjalankan? Kan kita sama-sama untung?

Memang sih basic nya itu kan memberikan benefits. Tetapi jika salah dalam mengartikan, FWB mampu menjerat dalam kerugian yang besar. Berikut beberapa kerugian bagi orang yang melakukan FWB:

1. Penyakit seksual
Pasangan FWB yang melakukan hubungan seksual tanpa tahu riwayat kesehatan diri, mampu menjadi sumber penyakit seksual terjadi. Beberapa jenis penyakit seksual yang dapat ditularkan yaitu Infeksi Menular Sesual (IMS) misal Sifilis, Gonore, HIV/AIDS, Herpes dan Chamydia

2.Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)
Pernikahan yang tidak diharapkan terjadi karena pasangan FWB yang melakukan hubungan seksual itu hamil. Bisa dibilang sih nikah tanpa rasa, karena mereka menikah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap perbuatannya itu.
 


Dilansir dari berita harian Detik Jogja, kasus mayat bayi yang terbungkus oleh celana jaket ditemukan di Bantaran Winongo Jogja. Ini bukan kasus pertama kali yang dijumpai, sering kali ditemui penemuan bayi/mayat bayi di buang. Kebanyakan dilatarbelakangi oleh hamil di luar nikah. Hubungan pasangan yang belum siap mempunyai anak, lalu dilahirkan dan dibuang. KTD dapat berimbas ke arah kejahatan yang mengancam nyawa seseorang.
 

Berdasarkan grafik di atas diketahui terjadi peningkatan kejadian KTD pada remaja di DIY dari tahun 2021 sebesar 758 menjadi 887 pada tahun 2022 dan meningkat lagi menjadi 1.090 pada tahun 2023. Menurut BKKBN, usia remaja antara umur 10-24 tahun. Penyebab terjadinya KTD pada remaja adalah perilaku seksual pranikah yang beresiko, pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas, sikap remaja terhadap seksualitas yang permisif, akses media informasi tentang pornografi, sikap orang tua, dan perilaku teman dekat.

Peran orang tua sangat diperlukan untuk menekan kejadian KTD pada remaja yaitu lebih menjalin kedekatan dengan anak dengan cara mengajak anak untuk sharing atau berdiskusi tentang kegiatan sehari-hari maupun permasalahan di sekolah serta meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya yang menginjak usia remaja.

3. Rasa penyesalan
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Penyesalan timbul karena adanya kesalahan yang dilakukan. FWB mampu membuat pasangannya merasakan rasa sesal karena melakukan hubungan yang tidak baik. Penyesalan saat ternyata terkena penyakit seksual, hamil diluar nikah, dan aborsi kandungan serta mungkin menyebabkan kegagalan dalam mencapai cita cita.

Hmm.... sungguh miris ya, jadi bersama-sama kita membangun hubungan yang sehat, positif dan dapat menjadi generasi berguna serta yang diharapkan selalu menjaga diri dari hubungan ke arah yang negatif. Hubungan yang sehat mampu membawa perilaku yang sehat pula. KITA YAKIN, PASTI BISA. (MF/ SR)

Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?