YOGYAKARTA – Forum Anak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali sukses menyelenggarakan agenda tahunan bergengsi, Temu Hati Anak DIY #17. Mengambil tempat di Aula Lantai 3 Balai Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DIY, kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu dan Minggu (16-17 Mei 2026) ini menjadi panggung utama bagi representasi anak-anak se-DIY untuk belajar, berdiskusi, dan merumuskan masa depan mereka.

Hari Pertama: Pembekalan Materi Krusial dan Perumusan Draf
Rangkaian hari pertama diawali dengan penuh energi melalui registrasi peserta, senam pagi bersama, dan persiapan orientasi. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, menandai dibukanya acara secara resmi.
Dalam sambutan pembukanya, Dian Ayu Cintia Bella selaku Ketua Temu Hati Anak DIY #17, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh delegasi kabupaten/kota.Senada dengan hal tersebut, Ketua Forum Anak DIY, Erwin Kuncoro Aji, mengucapkan terima kasih kepada dinas terkait yang telah memfasilitasi ruang aman ini. Ia berharap Temu Hati #17 dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang belajar, berdiskusi, serta menyuarakan aspirasi anak secara murni.

Untuk mempertajam pisau analisis peserta, panitia menghadirkan dua narasumber berkompeten pada hari pertama:
Materi I: Konvensi Hak Anak (KHA) oleh Ibu Ross Merry Indrasari dari Anak Bumi Dwipantara. Sesi ini mengajak peserta menyelami sejarah dan urgensi KHA, serta bagaimana peran aktif anak dalam menyuarakan kebutuhan dan kepentingannya.
Materi II: Perencanaan Pembangunan Terkait Hak Anak oleh Bapak Doddy Bagus Jatmiko, S.E., Akt. dari Bapperida. Materi ini membuka cakrawala peserta mengenai pentingnya pelibatan anak dalam perencanaan pembangunan daerah, serta bagaimana mekanisme birokrasi dalam menyerap Suara Anak agar diakomodasi oleh pemerintah.
Usai menerima pembekalan, para peserta langsung bergerak melakukan diskusi kelompok guna menyusun draf awal Suara Anak Tahun 2026. Di sela-sela rehat ISHOMA, kehangatan antarpeserta semakin erat melalui sesi tukar kado silang yang penuh tawa dan kebersamaan.

Memasuki hari kedua dinamika forum semakin hangat. Setelah merampungkan draf hasil diskusi hari pertama, forum diajak menengok ke belakang melalui pembacaan kembali Suara Anak DIY Tahun 2025 oleh Keyra and Anin (Duta Anak DIY 2025). Pembacaan ini krusial sebagai refleksi sekaligus tolok ukur kesinambungan isu yang akan dibawa ke tahun 2026. Puncak dari dinamika forum terjadi pada Sidang Suara Anak DIY Tahun 2026. Dipimpin oleh dewan presidium yang terdiri dari Zaima Bilqis, Dian Ayu Cintia Bella, dan Halimah Alda, sidang berjalan dengan sangat aktif, kritis, dan partisipatif. Adu argumen yang sehat dari berbagai perwakilan kabupaten/kota akhirnya berhasil mengetuk palu kesepakatan yang menghasilkan 10 Butir Suara Anak DIY Tahun 2026. Agar komitmen ini tidak mandek di atas kertas, sesi dilanjutkan dengan materi ketiga bertajuk "Develop a Social Project" yang dipandu oleh Kak Hastin dan Kak Sekar dari Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia. Pada sesi ini, peserta dilatih menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) berbentuk program sosial nyata yang dapat diimplementasikan di daerah masing-masing.
Sebelum kegiatan ditutup, ketegangan sempat memuncak saat pengumuman penghargaan Best Speaker (Pembicara Terbaik). Penghargaan ini diberikan kepada orator terbaik dari masing-masing klaster hak anak. Kelima anak terpilih ini nantinya memikul mandat terhormat untuk membacakan Suara Anak DIY Tahun 2026 di hadapan para pejabat daerah pada puncak acara Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat DIY Tahun 2026. Rangkaian panjang Temu Hati Anak DIY #17 ditutup dengan sesi foto bersama. Pancaran senyum optimis dari wajah seluruh peserta, panitia, fasilitator, dan narasumber menjadi simbol bahwa estafet perjuangan hak anak di Yogyakarta berada di tangan generasi yang tepat.
18 Mei 2026 - BY Admin