21 Mei 2026 - BY Admin

DP3AP2 DIY Rangkul SMA/SMK Swasta di DIY Demi Sekolah Aman Bebas Kekerasan

YOGYAKARTA – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak dengan tema “Mewujudkan Sekolah tanpa Kekerasan” pada Selasa (19/5) dan Kamis (21/5/2026). Masing-masing sesi diikuti oleh 42 perwakilan SMA/SMK di DIY, sehingga secara keseluruhan sebanyak 84 sekolah tingkat menengah atas turut serta dalam rangkaian kegiatan ini.

Pada sesi pertama (19 Mei), pengantar disampaikan oleh Khoiriyyatun Nisa’, S.Psi., Penata Kelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang P3KA, yang mengajak seluruh peserta berkolaborasi aktif dalam memberikan penanganan terbaik bagi anak yang menjadi korban kekerasan di lingkungan pendidikan. Pada sesi kedua (21 Mei), pengantar disampaikan oleh Plt. Kepala Bidang P3KA, Arif Nasiruddin, S.Psi., M.A., yang menekankan pentingnya mitigasi kasus anak di penghujung semester, termasuk menghadapi masa pengambilan rapor, liburan sekolah, penerimaan murid baru, dan kegiatan MPLS. Ia juga mengingatkan perlunya antisipasi terhadap sikap orang tua yang semakin kritis agar kegiatan di sekolah tetap berjalan aman dan hak-hak anak terpenuhi.

Bullying, Karakter Generasi, dan Akar Kekerasan

Paparan materi pada hari pertama dibawakan oleh Dr. Venny Hidayat, M.Psi., dari Mitra Optima Talenta. Ia membuka sesi dengan memotivasi para guru untuk menghadirkan kebahagiaan dalam diri mereka karena suasana hati pengajar sangat memengaruhi proses belajar mengajar. Ia memperkenalkan metode membangun kedekatan psikologis antara guru dan siswa melalui jabat tangan yang tulus dan bermakna sebagai fondasi relasi positif. Dr. Venny memaparkan berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di sekolah, meliputi kekerasan verbal, fisik, sosial, psikis, digital, hingga seksual, dengan bullying sebagai bentuk yang paling umum dijumpai.

Pada hari kedua, paparan disampaikan oleh Dr. Komarudin, M.Psi., Psikolog, dari Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Ia mengawali dengan mengidentifikasi contoh-contoh bullying yang kerap terjadi di sekolah, seperti mengejek nama orang tua, memberi julukan memalukan, mencubit, melempar penghapus, menggedor meja, hingga perpeloncoan. Dr. Komaruddin juga mengulas karakteristik dua generasi yang kini mendominasi bangku sekolah: Gen Z yang bersifat digital, fleksibel, dan sangat peduli terhadap kesehatan mental, serta Gen Alpha yang lebih dekat dengan kecerdasan buatan, lebih suka bereksperimen daripada diceramahi, dan mudah protes ketika kesejahteraan psikologisnya terusik.

Akar Kekerasan: Trauma, Krisis Identitas, dan Lingkungan yang Tidak Suportif

Kedua narasumber sepakat bahwa kekerasan di sekolah tidak muncul dari ruang hampa. Dari sisi internal, trauma masa lalu, ketidakstabilan emosi, cara berpikir yang belum matang, kurangnya empati, dan krisis identitas menjadi faktor pemicu utama. Anak usia remaja yang tengah mencari jati diri kerap melakukan tindakan menyimpang, termasuk mem-bully teman, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Dari sisi eksternal, lingkungan yang permisif, orang tua yang terlalu memanjakan anak hingga merasa kebal terhadap aturan, serta circle pertemanan yang tidak suportif turut memperparah risiko terjadinya kekerasan.

Dampak kekerasan di sekolah dirasakan oleh kedua belah pihak. Bagi korban, kebutuhan rasa aman tidak terpenuhi, muncul trauma, rendah diri, penurunan prestasi, keengganan bersekolah, hingga gangguan kesehatan mental. Bagi pelaku, perilaku agresif cenderung berulang dan pada akhirnya merusak budaya sekolah secara keseluruhan. Mengenai teknologi, Dr. Komaruddin menegaskan bahwa masalah sesungguhnya bukan pada gadget itu sendiri, melainkan pada budaya instan yang terbentuk ketika orang tua selalu memenuhi keinginan anak tanpa mengajarkan mereka untuk berjuang dan berusaha terlebih dahulu.

Tiga Lapis Penanganan: Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif

Dr. Komaruddin merekomendasikan penanganan kekerasan di sekolah melalui tiga lapis pendekatan. Pertama, pencegahan melalui penguatan sosial-emosional learning, pelatihan disiplin positif bagi guru, kampanye anti-bullying, skrining kesehatan mental, dan penguatan hubungan sekolah-orang tua. Kedua, penanganan kuratif berbasis perlindungan anak, yang mencakup konseling psikologis bagi korban maupun pelaku, pendekatan restorative justice, sistem pelaporan yang aman, dan pendampingan keluarga. Ketiga, rehabilitasi melalui trauma healing, reintegrasi sosial bagi pelaku, peer support group, serta monitoring dan follow-up secara berkelanjutan.

Dr. Venny secara khusus mendorong perubahan paradigma peran guru: tidak lagi sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, pendidik, orang tua, sekaligus sahabat bagi anak. Sementara soal disiplin, Dr. Komaruddin menegaskan perbedaan mendasar antara disiplin dan kekerasan: disiplin tidak menyebabkan cedera fisik maupun psikis, diterapkan sesuai aturan yang berlaku, dan disepakati bersama melalui consent sejak awal bersama siswa dan orang tua.

Layanan Perlindungan Anak DIY dan Diskusi Kasus Nyata

Paparan kebijakan disampaikan oleh Khoiriyyatun Nisa’, S.Psi., yang menyajikan data korban kekerasan di DIY tahun 2015–2025. Berdasarkan data tersebut, kekerasan fisik, psikis, dan seksual mendominasi kasus yang menimpa anak. Sekolah diinformasikan mengenai dua jalur layanan yang dapat dimanfaatkan: layanan pencegahan melalui TESAGA dan PUSPAGA yang dapat diakses gratis secara daring maupun luring, serta layanan penanganan melalui UPT PPA, hotline SAPA 129, dan Satgas PPA DIY yang menjangkau kasus hingga ke level kelurahan dan sekolah. Layanan kesehatan bagi korban difasilitasi melalui mekanisme FPKK lewat Bapeljamkesos.

DP3AP2 DIY berharap pemahaman dan komitmen yang terbangun dari rangkaian sosialisasi ini dapat mendorong seluruh sekolah di DIY untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman, bebas kekerasan, dan berpihak pada tumbuh kembang optimal setiap anak.

Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?