2 Oktober 2026 - BY Admin

DP3AP2 DIY Dorong Perempuan Berani Bersuara dari Ruang Keluarga hingga Ruang Publik di Desa Pengasih, Kabupaten Kulon Progo”

Kulon Progo- Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pemberdayaan perempuan dengan tema “Ibu Bersuara, Perubahan Terjadi: Dorong Perempuan Berani Berpartisipasi di Ruang Publik” pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Desa Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yaitu dari perwakilan DPRD DIY, perwakilan DP3AP2 DIY, serta perwakilan akademisi. Kegiatan diikuti sejumlah kelompok terdampak dan terpengaruh gender seperti ibu rumah tangga, anggota desa prima,  anggota PKK, Dasa Wisma, KWT, dan tokoh perempuan lokal. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan diri dan partisipasi perempuan dalam menyampaikan pendapat serta terlibat dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat. 


Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan daerah, khususnya dalam mendorong kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Perempuan, khususnya ibu dalam keluarga, memiliki peran yang tidak hanya berada dalam ranah domestik, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan proses pengambilan keputusan di masyarakat. Namun, dalam praktiknya masih terdapat bagian tantangan, seperti rendahnya kepercayaan diri untuk menyampaikan pendapat, keterbatasan akses terhadap ruang partisipasi publik, serta norma sosial yang dapat membatasi peran perempuan. Melalui kegiatan ini, DP3AP2 DIY berupaya mendorong perempuan agar memiliki keberanian dan kemampuan untuk menyampaikan aspirasi mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik. 



Pembahasan mengangkat pengalaman yang mungkin ditemui perempuan dalam kehidupan sehari-hari ketika memiliki pendapat, tetapi memilih untuk diam. Beberapa kondisi yang dibahas antara lain ketika seseorang sebenarnya tidak setuju tetapi memilih mengatakan “terserah”, ingin mengatakan “tidak” tetapi takut mengecewakan orang lain, memiliki ide tetapi merasa orang lain lebih pantas menyampaikannya, hingga ketika berada dalam rapat tetapi memilih menunggu orang lain berbicara terlebih dahulu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diam tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki pendapat atau tidak memiliki suara. Peserta diajak mengenali alasan yang membuat perempuan sulit bersuara serta membangun keberanian untuk mulai mencoba menyampaikan pendapat. 


Materi selanjutnya membahas kepercayaan diri dan pola pikir yang dapat memengaruhi keberanian perempuan untuk berbicara. Peserta diajak mengenali siklus ketika rasa takut berbicara membuat seseorang memilih diam, tidak mencoba, kemudian tidak memiliki pengalaman berhasil dan semakin merasa tidak mampu. Siklus tersebut dapat diubah dengan mulai berani mencoba dari hal-hal kecil sehingga muncul pengalaman berhasil yang dapat meningkatkan keyakinan diri. Dalam pembahasan tersebut, peserta juga diajak mengganti pandangan seperti “saya cuma ibu rumah tangga” menjadi keyakinan bahwa pengalaman yang dimiliki tetap berharga, serta mengubah anggapan “saya tidak pintar bicara” menjadi kesadaran bahwa kemampuan berbicara dapat dipelajari. 

Selain membangun kepercayaan diri, kegiatan juga membahas pentingnya komunikasi asertif dalam menyampaikan pendapat. Peserta diperkenalkan pada perbedaan perilaku pasif, agresif, dan asertif. Sikap pasif dapat terlihat ketika seseorang hanya mengatakan “terserah”, sementara sikap agresif cenderung memaksakan pendapat. Adapun komunikasi asertif dilakukan dengan menyampaikan pandangan secara tegas namun tetap menghargai pendapat orang lain. Kemampuan tersebut penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berdiskusi dengan anggota keluarga maupun ketika mengikuti forum dan kegiatan di lingkungan masyarakat.

Pembahasan kemudian diperkuat melalui studi kasus dan diskusi mengenai posisi perempuan dalam proses pengambilan keputusan di masyarakat. Salah satu kasus menggambarkan seorang ibu yang memiliki gagasan mengenai kegiatan anak-anak dalam rapat dusun, tetapi memilih diam karena khawatir pendapatnya dinilai kurang tepat. Kasus lainnya menggambarkan perempuan yang dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan desa, seperti menyiapkan konsumsi dan menerima tamu, tetapi belum dilibatkan dalam menentukan kebutuhan dan bentuk kegiatan. Melalui kasus tersebut, peserta diajak mendiskusikan cara menyampaikan pendapat secara santun, langkah yang dapat dilakukan agar perempuan dapat ikut menentukan keputusan, serta dukungan yang dapat diberikan oleh sesama perempuan.

Pelaksanaan kegiatan juga dirancang secara interaktif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok,  studi kasus, dan berbagi pengalaman peserta. Pendekatan tersebut digunakan agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga dapat menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. 


Dalam pemaparan materi, peserta diajak memahami bahwa menjadi perempuan berdaya tidak selalu berarti harus menjadi orang yang paling banyak berbicara, selalu memimpin, ataupun memenangkan setiap perdebatan. Perempuan berdaya ditunjukkan melalui kemampuan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan, meyakini bahwa suara yang dimiliki memiliki nilai, mampu menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat, serta ikut terlibat dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan diri dan lingkungan, yaitu keluarga, komunitas, dan ruang publik, sehingga peserta dapat melihat kembali peran yang selama ini telah dijalankan sekaligus mengenali peran yang masih ingin dikembangkan.

Melalui kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan ini, DP3AP2 DIY juga mendorong agar perempuan semakin percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam forum masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan dukungan antar sesama perempuan serta mendorong keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan masyarakat. Dengan keberanian untuk bersuara yang dimulai dari lingkungan terdekat, perempuan diharapkan dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam kehidupan sosial dan turut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.


Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?