Yogyakarta, DP3AP2 DIY (04/12/2024) - Di zaman sekarang, makin banyak orang yang bingung mau punya anak atau nggak (childfree). Kedua pilihan ini punya pengalaman hidup yang beda-beda, lengkap dengan kelebihan dan tantangannya masing-masing. Yuk, kita bahas perbedaannya dan gimana caranya milih yang paling pas sama nilai dan tujuan hidup kamu!
Childfree adalah keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun adopsi. Fenomena ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Di Indonesia, childfree di viralkan oleh seorang influencer Gita Savitri yang memposting bahwa ia memutuskan untuk childfree. Saat itu, banyak warganet yang menyerbu postingan tersebut dengan komentar-komentar sarkas. Gita Savitri lalu memposting video penjelasan pada kanal YouTube miliknya dengan judul “Childfree: Serba Salah Di Mata Warganet”.
Pilihan childfree sering diambil karena berbagai alasan pribadi, seperti:
Finansial, satu alasan individu memilih childfree adalah masalah biaya. Dari tahun ke tahun biaya hidup semakin meningkat. Sebagai contoh, biaya hidup layak di Yogyakarta berdasarkan data BPS sekitar Rp 2.500.000 – Rp 3.500.000 dalam sebulan pada tahun 2022. Hasil survei berbanding terbalik dengan UMP di Yogyakarta sebesar Rp. 2.125.898. Adapun jika suami dan istri bekerja, Penghasilan tersebut akan cukup sulit untuk mencukupi pengeluaran yang dibutuhkan, terlebih jika ada tanggungan orang tua dan tanggungan lain. Oleh karena itu, sebagian pasangan lebih memilih tidak memiliki anak karena takut tidak memenuhi kebutuhan anak tersebut.
Pengaruh budaya barat, biasanya terbawa oleh arus globalisasi. Di beberapa negara dari bagian Barat, sudah menormalisasikan childfree. Sebagai contoh, Amerika Serikat yang penduduknya sudah banyak milih untuk childfree. Pertukaran pelajar ke luar negeri juga banyak membawa budaya luar ke Indonesia. Oleh karena globalisasi tersebut, wajar jika childfree bisa berkembang di Indonesia.
Trauma masa lalu, sangat tidak bisa dipungkiri bayang-bayang masa lalu dapat menghantui kehidupan di masa sekarang. Untuk sebagian orang yang pernah merasakan broken home, kekerasan dalam keluarga, pola asuh yang otoriter, dan beberapa permasalahan keluarga lainnya seringkali berpikir bahwa kelak di masa depan tidak ingin mempunyai keluarga seperti dirinya dahulu. Trauma tersebut menjadikan seseorang tidak percaya diri dalam mengasuh anak.
Di beberapa negara, ditemui pasangan yang childfree lebih suka mengadopsi hewan peliharaan ketimbang memiliki anak. Mereka beranggapan bahwa merawat hewan lebih mudah dan praktis.
Namun, pilihan ini juga dapat membawa tantangan seperti kesepian di masa tua atau stigma sosial dari lingkungan yang konservatif. Childfree membawa kesenangan sementara di masa muda. “sementara” memberi arti bahwa kesenangan tersebut akan luntur. Coba kamu bayangkan bagaimana saat tua nanti jika tidak memiliki anak? Dengan siapakah kamu menikmati masa tua ini? Keinginan menggendong cucu dan berkumpul bersama keluarga besar? Atau sekedar bercerita masa muda kepada seseorang?
Childfree tidak dapat dikatakan salah ataupun benar. Alangkah baiknya kita harus lebih aware terhadap masa depan sendiri dan bangsa. Misalkan ada ribuan orang memilih childfree, lalu dengan siapakah 20 tahun mendatang bangsa kita dipimpin? Memiliki anak tidak selalu membawakan kesengsaraan. Negara juga perlu anak-anak bangsa sebagai pemimpin. Membutuhkan SDM yang unggul serta lapangan pekerjaan untuk ditempati.
Parenthood adalah lawan dari childfree. Parenthood, berarti pilihan untuk memiliki dan membesarkan anak. Pilihan menjadi orang tua juga mempunyai tanggung jawab yang mengiringinya. Memutuskan apakah ingin memiliki anak atau tidak adalah pilihan besar dalam hidup yang membutuhkan pertimbangan matang.
Untuk wanita pasti ingin merasakan yang namanya hamil, melahirkan, dan menyusui. Kehidupan keluarga akan lengkap jika memiliki anak. Membesarkan anak bersama pasangan, mengantarkan sekolah, dan membangun keluarga yang harmonis merupakan bentuk kebahagiaan dalam keluarga.
Parenthood sering kali mengajarkan banyak hal baru tentang kesabaran, pengorbanan, dan bagaimana menghadapi situasi yang tidak terduga. Orang tua juga belajar melalui kesalahan dan tumbuh bersama anak-anak mereka
Menjadi orang tua membawa berbagai macam emosi: dari kebahagiaan saat melihat anak tumbuh, kecemasan tentang masa depan mereka, hingga rasa bangga saat mereka mencapai sesuatu.
Meskipun penuh tantangan, banyak orang tua merasa bahwa segala pengorbanan mereka sepadan dengan cinta dan kebahagiaan yang mereka rasakan dari hubungan dengan anak-anak mereka.
Kalau menurutmu, apa yang paling menarik atau menantang dari konsep parenthood? Apakah kamu sudah membayangkan bagaimana kelak menjadi orang tua?
Setiap orang tentu memiliki kondisi dan prioritas yang berbeda, sehingga penting untuk memikirkan beberapa hal berikut:
Visi misi, Coba tanyakan pada diri sendiri, apa sebenarnya yang ingin kamu capai dalam hidup? Apakah kamu ingin mendedikasikan waktu, tenaga, dan perhatian untuk membesarkan anak? Atau kamu hanya lebih memilih fokus pada pengembangan diri, hubungan dengan pasangan, atau cita-cita pribadi lainnya? Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh apa yang menurut kamu paling bermakna dan sesuai dengan jalan hidup kamu.
Kesiapan finansial dan emosional, menjadi orang tua membutuhkan kesiapan finansial yang cukup, mulai dari biaya persalinan, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari anak. Selain itu, kamu juga perlu memastikan bahwa secara emosional kamu siap untuk menghadapi tantangan dalam membesarkan anak. Jika memilih childfree, pertimbangkan juga bagaimana kamu akan mengelola hidup jangka panjang sebagai orang yang menjadi tua.
Dukungan pasangan dan lingkungan, Jika kamu sudah memiliki pasangan, penting untuk membahas pilihan ini secara terbuka. Apakah pasangan kamu memiliki pandangan yang sama? Bagaimana dengan keluarga besar atau lingkungan sosial? Meski pada akhirnya keputusan ini adalah hak kamu, memahami bagaimana orang-orang di sekitar akan merespons bisa membantu kamu mempersiapkan diri secara mental.
Memilih antara childfree atau parenthood adalah keputusan yang sangat personal dan tidak ada jawaban yang benar atau salah. Kuncinya adalah memahami diri sendiri, mempertimbangkan kebutuhan dan situasi hidup saat ini, serta mengambil keputusan yang membuat kamu bahagia dan damai di masa depan. Hidup adalah tentang memilih, dan apa pun pilihan kamu, pastikan itu membawa kebahagiaan dan kepuasan jangka panjang. (MF&SR)