5 Desember 2025 - BY Admin

Puncak Acara Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2025 : Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak, Wujudkan Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan

Yogyakarta, 5 Desember 2025 - Puncak Acara Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (HAKtPA) Tahun 2025 digelar pada Jumat, 5 Desember 2025 di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Kegiatan ini mengangkat tema “Ruang Aman bagi Perempuan dan Anak : Wujudkan Jogja Istimewa tanpa Kekerasan” sebagai upaya memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak di DIY.

Acara dibuka dengan penyampaian laporan pelaksanaan kegiatan HAKtPA 2025 oleh Ibu Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M., selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY yang memaparkan rangkaian program pencegahan kekerasan yang telah dilakukan dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2025. Rangkaian peringatan ini dilaksanakan selama 16 Hari, diawali pada 25 November hingga nanti pada 10 Desember yang secara simbolik menghubungkan antara Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga Hari HAM Internasional. Dalam rentan waktu tersebut, telah dilangsungkan beberapa kegiatan, diantaranya Webinar yang dilakukan pada bulan November sebagai upaya preventif dengan sasaran masyarakat luas. Publikasi Bersama (OPD, Satuan Pendidikan, Satgas PPKPT, hingga jejaring perlindungan Perempuan dan anak) dengan materi yang sudah disiapkan yang dilakukan serentak mulai 25 November hingga nanti 10 Desember 2025 melalui sosial media masing-masing. Puncak Acara dari rangkaian peringatan HAKtPA dikemas melalui kegiatan senam bersama dan dilengkapi dengan Pemeriksaan kesehatan gratis, Konseling/konsultasi psikologi gratis serta Kampanye bersama Anti Kekerasan yang berkolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam Jumat Semarak Perikanan.

Ibu Erlina berharap rangkaian peringatan ini menjadi refleksi untuk semakin meneguhkan tekad bersama tentang pentingnya ruang aman sebagai bentuk perlindungan terhadap Perempuan dan Anak agar terbebas dari segala bentuk kekerasan. Mengakhiri laporannya, Ibu Erlina menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan HAKtPA 2025, baik dari unsur pemerintah maupun masyarakat. Beliau berharap rangkaian kegiatan ini memberikan dampak nyata dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berkeadilan, sehingga perempuan dan anak di Yogyakarta dapat tumbuh dan beraktivitas dengan nyaman tanpa ancaman kekerasan.


Selanjutnya, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, memberikan sambutan sekaligus dorongan agar seluruh lapisan masyarakat turut mengambil peran aktif dalam upaya perlindungan perempuan dan anak. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa periode 25 November hingga 10 Desember selalu menjadi waktu refleksi global bagi para pegiat perlindungan perempuan dan anak. Gerakan internasional ini, merupakan panggilan moral untuk terus memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Bapak Wakil Gubernur mengingatkan bahwa kasus kekerasan masih kerap terjadi hingga hari ini, bahkan seringkali dilakukan oleh orang-orang terdekat korban. Selain itu, perkembangan teknologi telah menghadirkan bentuk ancaman baru berupa kekerasan berbasis gender online (KBGO), yang membuat perempuan dan anak tidak hanya rentan di ruang fisik tetapi juga di ruang digital.

“Perempuan kini semakin aktif di ruang publik. Namun berbagai bentuk ancaman tetap membayangi, mulai dari kekerasan di tempat kerja, pelecehan di ruang publik, hingga kekerasan berbasis gender di dunia maya,” tegasnya. Ruang publik seharusnya menjadi tempat tumbuhnya partisipasi, bukan ketakutan.

Di sisi lain, KGPAA Paku Alam X juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi anak dan remaja dalam era media sosial. Budaya pencitraan, kebutuhan akan pengakuan, serta tekanan sosial kerap memicu perundungan maupun tekanan mental yang berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka.

Melalui tema “Ciptakan Ruang Aman, Wujudkan Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan”, KGPAA Paku Alam X mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan. Setiap individu, memiliki peran penting, mulai dari mengenali tanda-tanda kekerasan, memberikan informasi mengenai layanan bantuan, hingga mendampingi korban menuju lembaga layanan.

Langkah kecil adalah wujud empati dan keberpihakan terhadap kemanusiaan,” tegasnya.

Menutup sambutannya, KGPAA Paku Alam X mengajak seluruh pihak bergotong royong menciptakan lingkungan yang lebih aman, ramah, dan setara bagi perempuan serta anak di Yogyakarta. Dari ruang yang aman, akan lahir manusia-manusia berdaya yang mampu membangun bangsa yang beradab.


Dalam puncak peringatan ini, berbagai kegiatan digelar untuk menggerakkan partisipasi masyarakat, diantaranya:

·         Senam bersama sebagai pembuka rangkaian acara.

·         Jumat Semarak Perikanan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.

·         Kampanye Anti Kekerasan di lingkungan Kompleks Kepatihan dan sepanjang Jalan Malioboro.

·         Pemeriksaan kesehatan gratis oleh Fakultas Kedokteran UII.

·         Konseling atau konsultasi psikologi bersama Puspaga Prima DIY.

·         Donor darah oleh DWP DIY.

·         Bazaar produk UMKM oleh DWP DIY.


Melalui kegiatan ini, Pemerintah Daerah DIY mengajak masyarakat untuk terus memperkuat kepedulian dan aksi nyata dalam menciptakan ruang yang aman, ramah, dan bebas kekerasan. Semangat tersebut diharapkan menjadi langkah bersama untuk mewujudkan Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan.

Silakan Pilih CS

Pengaduan P2TPAKK
Telekonseling Tesaga
Layanan SAPA 129
Satgas PPA DIY
Tutup
Ada yang bisa kami bantu?